![]() |
Waktu santai bersama Garong -
Mohon abaikan outfit makan Si Teteh yang sudah kekecilan ^_^
|
Alhamdulillah, minggu ini saya dapat memenuhi dua deadline pribadi untuk sharing pengalaman Webinar Rumah Inspirasi. Refleksi pengalaman dari sesi kelima, yang mengulas tentang pembelajar mandiri sebagai inti proses dan hasil akhir homeschooling, telah saya share hari Minggu kemarin. Sedangkan tulisan hari ini didedikasikan untuk sesi keenam (15 Oktober 2015), yang membahas salah satu topik homeschooling favorit saya, memanfaatkan dan memaknai kehidupan keseharian.
Pada umumnya, banyak orang (baca: termasuk saya sebelumnya) menganggap belajar itu merupakan proses belajar mengajar seperti di sekolah. Prosedurnya melibatkan pengajar (guru) dan siswa yang dibatasi oleh beberapa unsur diantaranya kegiatan di dalam bangunan sekolah, dalam jangka waktu tertentu setiap harinya, serta menitikberatkan pada penggunaan buku dan proses mengajar (guru menjelaskan dan siswa mendengarkan).
Hal tersebut sering menimbulkan keraguan, kebingungan, bahkan kepanikan dalam proses awal homeschooling. Namun, sebenarnya sebagian besar proses belajar dalam homeschooling terletak pada pemanfaatan dan pemaknaan kehidupan sehari-hari. Kehidupan merupakan kurikulum alami yang dimiliki setiap orang, dan dunia ini merupakan ruang kelasnya. Dari pengalaman hidup kita inilah, kita mendapatkan keterampilan yang paling berharga dan paling dibutuhkan.
Orangtua tidak perlu khawatir tentang apa yang perlu diajarkan kepada anak, bagaimana cara mengajarnya, ataupun merasa kurang percaya diri karena keterbatasannya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memfasilitasi anak secara maksimal dalam belajar melalui kehidupan. Penasaran dengan cara belajar melalui keseharian? Silahkan disimak.
